Rabu, 04 Agustus 2010

BeLaJaR DaR! aLaM

Anda pernah mendengar kalimat “ kabar Angin ?” yang berarti suatu kebohongan. Kebohongan itu datangnya dari manusia bukan dari angin. Sebenarnya angin mempunyai sifat jujur. Kemanapun ia bertiup, ia akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Apabila saat berhembus dan melewati binatang mati yang sudah menjadi bangkai dan menimbulkan bau tak sedap, ia akan membawa bau itu kepada siapa saja yang ia temui.

Begitu juga dengan bau harum, apabila ia melewati sekuntum bunga yang tengah mekar, ia pasti akan mengabarkan pada semua orang tentang keharuman bunga tersebut. Tidak ada yang ditutup-tutupi, kenyataan harus dikatakan walau itu menyakitkan. Sebagai manusia , kita seharusnya malu. Kalau angin saja dapat berkata jujur, kenapa kita tidak ?

1. BINTANG YANG RENDAH HATI
Malam hari rasanya tidak lengkap tanpa taburan bintang-bintang di langit. Dari kejauhan ia kelap-kelipkan cahayanya dan membuat malam menjadi lebih indah.

Penah dengar kalimat bintang film, bintang lapangan atau bintang pelajar ? Julukan-julukan itu diberikan pada orang-orang yang besar dan hebat serta lebih dari yang lainnya. Lain halnya dengan bintang yang ada dilangit, meskipun ia besar dan bahkan mungkin lebih besar dari bumi dan matahari, namun ia tidak mau menampakkan diri. Ia cukp memberiakn cahanya dari kejauhan dan tak ingin dikenal semua orang.

Ia hanya menjadi orang dibelakang panggung, biarlah mausia menikmati cahayanya. Ia tidak mau menjadi sombong karena telah membuat malam hari menjadi indah. Setiap manusia cendrung ingin dikenal, dipuji dan disanjung. Apalagi setelah memberikan pertolongan kepada orang lain. Bahkan sampai disiarkan media massa.

Jadiah seperti bintang yang rendah hati, karena didalam kerendahan itu terdapat sanjungan, pujian dan keterkenalan yang sebenarnya.

2. BEBEK YANG TEGUH
 Bebek bisa ngomong...kwkwkwkwkw  Seekor bebek tengah berenang di sebuah danau yang sejuk. Ia menyelam dan timbul lagi. Meskipun seluruh tubuh mungilnya masuk ke air namun tak sediktipun bulu-bulu halusnya basah. Berkali-kali ia menyelam, tetap saja tidak basah. Semakin dalam dan lama ia menyelam, ia tetap kering.

Dalam kehidupan ini, air danau ibarat sebuah lingkungan dan bebek adalah manusia. Walaupun kita berada di lingkungan yang rusak sekalipun, bila kita tetap berpegang teguh pada kebenaran, maka tidak sedikitpun lingkungan yang rusak dan kotor itu dapat mempengaruhi kita. Jadilah seperti bebek yang teguh, walaupun segarnya air danau menariknya untuk berenang, namun ia tetap kering dan tidak basah sedikitpun.

3. AIR YANG MENGALIR KE BAWAH
Tuanglah segelas air, kemudian perhatikan kemana ia mengalir. Sudah pasti jawabannya adalah ke tempat yang lebih rendah. Pernahkah Anda melihat air mengalir ke tempat yang lebih tinggi ? Tentu tidak, di manapun ia berada, air selalu pergi ke tempat yang lebih rendah.

Begitu juga dengan manusia, apabila ia selalu melihat pada orang yang lebih beruntung, maka hidupnya tidak akan tenang. Melihat tetangga punya mobil baru, tidak bisa tidur. Karena ingin juga beli mobil yang lebih hebat dari milik tetangga.

Namun ada juga manusia yang bersifat seperti air, ia selalu melihat ke bawah di mana masih banyak orang yang lebih susah dari dirinya. Manusia yang bersifat seperti air ini, hidupnya akan tenang karena ia selalu menyukuri apa yang Tuhan berikan padanya.

Manusia yang selalu melihat ke bawah tidak akan merasa sedih bila ada tetangganya yang beli mobil baru. Karena dalam pikirannya, ia merasa masih beruntung bisa beli sepeeda motor sedangkan masih banyak manusia yang harus berdesak-desakan naik bis kota, atau berjalan kali. Berlakulah seperti air, mensyukuri apa yang Tuhan berikan pada kita, maka kelak Tuhan akan menambahnya.

4. POHON YANG BERSATU
Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda, bahkan kembar identikpun pasti memiliki perbedaan. Perbedaan itu membuat hidup menjadi lebih beragam dan berwarna. Apa jadinya bila semua manusia di dunia sama ? tentu hidup ini akan terasa monoton dan hambar.

Tapi ingat !!! berbeda boleh saja asal perbedaan itu tidak menjadi boomerang bagi persatuaan. Banyak sudah contohnya, penjarahan yang diakibatkan perbedaan status social, pertempuran antar warga akbat perbedaan suku. Bahkan perbedaan tata cara beribadah dalam suatu agama sering menimbulkan perpecahan.

Dalam menanggapi sebuah perbedaan, kita harus selalu melihat kebelakang. Seperti sebuah pohon, dari satu batang akan tumbuh beberapa cabang, dari cabang-cabang itu akan tumbuh beberapa ranting. Semakin banyak cabangnya, semakin indah dan banyak pula buah yang dihasilkan.

Batang pohon itu tidak pernah melarang cabang-cabang dan rating-ranting itu bergerak. Mereka pergi kemana mereka suka. Tapi satu hal yang harus diingat, untuk dapat tetap hidup dan menghasilkan buah, cabang-cabang dan ranting itu membutuhkan zat makanan yang diperoleh dari akar dan dialirkan melalui batang. Jadi, walaupun berbeda bentuk dan fungsinya, mereka menyadari bahwa perbedaan bentuk dan fungsi itu dapat digunakan untuk memperoleh tujuan dan kebahagiaan bersama, bukan tujuan batang, atau ranting saja.

Begitu juga dengan manusia, perbedaan yang dimiliki harus membuat kita sadar bahwa tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada manusia yang mampu melakukan segalanya sendiri. Setiap manusia mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Seperti sebuah pohon, kita dapat saling melengkapi dalam mencapai tujuan hidup. Jadilah seperti pohon yang menjadikan perbedaan itu sebuah kelebihan.


5. GELAS YANG TIDAK SERAKAH
Memang sudah menjadi sifat dasar manusia yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang di miliki. Sudah punya satu, ingin dua, ingin tiga, dan seterusnya. Kadang semua itu membuat kita lupa bahwa dunia ini tidak abadi dan di dalam harta yang kita miliki ada hak orang lain.

Apapun bentuknya, berlebihan itu tidak akan membawa kebaikan. Terlalu banyak makan akan membuat perut sakit, terlalu banyak harta akan membuat hidup tidak tenang, kemana harta ini harus di simpan agar tidak dirampok.

Seperti sebuah gelas kosong yang dituangkan air, mula-mula terisi seperempat, setengah, lalu duapertiga dan akhirnya penuh. Bila kita terus menuangkan air, maka gelas itu tidak akan berubah menjadi lebih besar agar dapat menampung semua air. Gelas itu tidak akan memaksa dirinya, karena ia sudah merasa cukup, yang dibutuhkan hanya seukuran dengan besarnya. Kelebihan itu akan ia bagikan pada yang lainnya, karena ia tidak serakah.

Alangkah indahnya hidup ini jika manusia tidak serakah. Mereka hanya mengambil apa yang dibutuhkan dan memberikan kelebihannya pada yang lain. Seperti sebuah gelas yang tidak serakah.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar